oleh: Alfin Dwi Rahmawan

Sejak pertengahan tahun 2015, proliferasi dan penyebaran berita bohong atau hoaks (Hoax), berita palsu (Fake News), dan ujaran kebencian (Hate Speech) semakin meningkat di Indonesia, dan terkhusus di ranah internet dan media sosial. Merujuk data dari kementrian Informasi dan Infomatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) tahun 2018 menyebutkan bahwa penanganan konten negatif pada 2017 meningkat 900 persen dibandingkan 2016. Peningkatan yang fantastis bukan?

Beberapa hoaks yang terjadi saat ini sengaja menyinggung sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (sara) sehingga mengakibatkan keresahan sosial dan memicu disintegrasi bangsa. Sebenarnya jika kita melihat perkembangan hoaks hingga saat ini kita dapat melihat bahwa fenomena ini selalu muncul ditengah  suhu politik yang memanas misalnya menjelang pilkada (Pemilihan Kepala Daerah), pilpres (Pemilihan Presiden), ataupun pileg (Pemilihan Anggota Legislatif) dan tak terkecuali saat ini menjelang pemilihan presiden 2019.

Jika kita dulu melihat peredaran Tabloid Obor Rakyat pada pilpres 2014 yang menjadi salah satu contoh media yang menyebarkan berita-berita palsu dengan nada provokatif, maka berita palsu, ujaran kebencian, dan hoaks yang kini beredar di Indonesia lebih didominasi platform media-media baru berbasis internet seperti WhatsApp, Instagram, Twitter, Facebook dan sebagainya yang merupakan jejaring sosial. Media-media platform seperti ini memungkinkan untuk memproduksi berita-berita palsu ke ruang siber untuk di konsumsi lebih banyak orang, karena mengingat informasi yang mengalir supercepat.

Dalam pembicaraan kita sehari-hari konteks Hoaks sering diartikan sebagai berita bohong atau palsu (Fake News). Merujuk dari majalah Tempo ada beberapa ciri Hoaks, yaitu: (1) Berita yang disajikan bohong atau palsu, (2) Peristiwa yang dihadirkan berlebihan atau bagian-bagian tertentu sengaja dihilangkan, (3) Tulisan atau teks tidak sesuai gambar, (4) Judul tidak sesuai dengan isi berita, (5) Memuat kembali peristiwa lama dan menjadikannya seolah-olah berita aktual dengan tujuan mendukung isu yang sedang ramai diperbincangkan, dan (6) Sengaja memuat foto peristiwa lain yang diubah sedemikian rupa untuk mendukung isu yang sedang ramai dibicarakan.

Istilah lain yang muncul bersamaan dengan hoaks dan berita palsu yakni ujaran kebencian, yang dimana merujuk pada ungkapan Nicholas Wolfoson (1997) dalam bukunya Hate Speech, Sex Speech, Free Speech. Ia mengatakan bahwa ujaran kebencian dapat menyebabkan penderitaan emosianal, sosial, dan psikologis. Hal senada seperti yang dkatakan Nigel Warburton (dalam Franco & Warburton, 2013:151) mendefiniskan ujaran kebencian sebagai “Ujaran-ujaran yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain, baik dengan menyulut tindak kekerasan terhadap targetnya maupun dengan kata-kata yang menusuk sehingga menimbulkan penderitaan psikologis”. Ujaran kebencian biasanya dilayangkan kepada kelompok-kelompok yang mengalami subordinasi karena identitas mereka yang berbeda atau minoritas.

Memilih media sosial sebagai alat untuk memviralkan hoaks dan ujaran kebencian tentu bukan tanpa landasan dan alasan. Mengingat survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, ada tiga media sosial yang menjadi favorit  masyarakat di Indonesia yakni Facebook yang dikunjungi 54% pengguna internet atau sebanyak 71,6 juta penduduk, Instagram sebanyak 15% atau sebanyak 19,9 juta penduduk, dan YouTube sebanyak 11% atau 14,5 juta penduduk, dan terus mengalami peningkatan hingga tahun 2018. Platform media baru yang digunakan seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, Maupun YouTube menjadi media yang pas dalam membentuk  maupun membangun opini publik dan aspirasi politik.

Popularitas platform-platform media baru ini di Indonesia menjadi peluang yang bagus bagi para pengelola berita-berita hoaks di dunia maya. Dengan memanfaatkan platform tersebut, para pengelola ini dapat dengan cepat memviralkan berita-berita bernada provokatif yang mereka sebarkan. Dengan memanfaatkan media-media baru ini siapa saja dapat bertarung dengan statement-statement yang masing-masing pihak lontarkan.

Polarisasi produksi media-media hoaks cenderung bergantung pada jurnalistik media arus utama. Yang dimana media-media penyebar hoaks ini tidak membuat berita-beritanya sendiri, ataupun turun secara langsung dan meliput berita kelapangan. Mereka hanya perlu mengamati berita-berita yang sedang ada di media arus utama dan mengidentifikasi isu-isu yang cenderung kontroversial dan memodifikasi berita-berita tersebut dengan sedemikian rupa, sehingga terkadang fakta yang ada diramu dengan fiksi. Dengan niat mereka menjatuhkan pihak lawan.

Pemberitaan-pemberitaan yang tersebar di dunia maya saat ini memasuki era post-truth yang dimana era ini melihat kebenaran tidak lagi berbasis pada fakta objektif, melainkan pada emosionalitas dan pandangan subjektif. Saat ini user atau pengguna media sosial dengan bebas melakukan ujaran-ujaran kebencian, menyebarkan berita-berita provokasi, hoaks maupun Fake News dengan bungkusan kebebasan berbicara (Freedom of Speech).

Peredaran hoaks diruang siber atau ruang maya merupakan fenomena yang esensial dalam konteks Indonesia, mengingat seperti yang telah dijelaskan di atas separuh dari penduduk Indonesia adalah pengguna aktif internet dan menjadi cyber society. Merekalah yang menjadi sasaran utama produksi dan sirkulasi hoaks, berita palsu dan ujaran kebencian.

Dalam konteks ruang siber juga individu dengan leluasa terlibat dalam mempraktikkan kekuasaan, baik untuk membangun dan merekonstruksi sebuah narasi yang bakal diviralkan seperti hoaks, fake news, maupun ujaran kebencian. Hal ini senada dengan pemahaman dari seorang ahli teori sosial serta pemikir prancis Michel Foucault yang dimana menurut pandangannya kekuasaan itu tidak berpusat melainkan kekuasaan itu tersebar dan beroperasi di semua level kehidupan sosial, tak terkecuali di ruang siber yang dikendalikan oleh pengguna-pengguna di belakangnya.

Mempelajari dan memahami bagaimana beroperasinya berita bohong, berita palsu, dan ujaran kebencian serta motif-motif terjadinya produksi itu menjadi sangat penting dan relavan. Mengingat berita-berita palsu, berita bohong maupun ujaran kebencian di produksi secara masif dan disebarluaskan di dunia maya atau ruang siber, yang kemudian menjadi konsumsi publik yang dipertukarkan.

Untuk itu melihat maraknya sirkulasi berita-berita yang mengandung provokasi di ruang siber butuh penanganan khusus, seperti menjadikan individu-individu bukanlah pihak pasif yang menerima mentah-mentah berita yang didapatkannya. Seharusnya user atau pengguna platform-platform media baru menjadi agen yang kritis terhadap persebaran hoaks dan sejenisnya. Dengan terciptanya individu-individu yang kritis bisa menjadi penghadang sirkulasi hoaks, berita palsu, ujaran kebencian di ruang siber dan menguatkan integrasi bangsa[.]

Komentar

komentar

Temukan kami di:

"Yoh Gerek, Kapan Agik"

Aksi Baik Babel adalah komunitas yang berbasis pendidikan dan sosial yang berfokus menyalurkan aksi baik untuk Bangka Belitung.

HUBUNGI KAMI











2017 © Komunitas Aksi Baik Babel

Pin It on Pinterest

Share This
%d bloggers like this: